Makalah ejarah
ASAL USUL BANGSA
INDONESIA
SMA NEGERI I BAHODOPI
KABUPATEN MOROWALI
2013/2014
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kami panjatkan ke-hadirat Tuhan Yang Maha
Esa, karena atas berkat rahmat dan karuniaNyalah, Makalah ini dapat
terselesaikan dengan baik, tepat pada waktunya . Adapun tujuan penulisan
makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Sejarah Indonesia I , pada
semester I, di tahun ajaran 2013, dengan judul Asal Usul dan Persebaran Manusia
di Kepulauan Indonesia. Dengan membuat tugas ini kami diharapkan mampu untuk
lebih mengenal tentang Asal Usul dan Persebaran Manusia di Kepulauan Indonesia
.
Kami sadar, sebagai seorang pelajar yang masih dalam
proses pembelajaran, penulisan makalah ini masih banyak kekurangannya. Oleh
karena itu, kami sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat
positif, guna penulisan karya ilmiah yang lebih baik lagi di masa yang akan
datang.
Harapan kami, semoga makalah yang sederhana ini, dapat
memberi kesadaran tersendiri bagi generasi muda bahwa kita juga harus
mengetahui Asal Usul dan Perkembangan nenek moyang kita di Indonesia .
Bahodopi,
27 Mei 2014
Penyusun
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .....................................................................................
KATA
PENGANTAR ……………………………………………………... ii
DAFTAR
ISI ………………………………………………………………..iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar
belakang …………………………………………………………… 4
B.
Rumusan masalah ……………………………………………………… 4
C. Tujuan…………………………………………………………………… 4
BAB II
PEMBAHASAN
1. Evolusi
Manusia…………………………………………………………5
2. Asal
Usul Manusia Indonesia…………………………………………….8
3. Persebaran
Manusia di Kepulauan Indonesia…………………………… 13
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan ……………………………………………………… 17
B.
Saran ………………………………………………………………… 17
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Indonesia adalah bangsa yang sangat besar, tetapi banyak masyarakat yang tidak
tahu akan nenek moyang bangsa Indonesia sendiri. Dengan semakin berkembangnya
zaman, semakin banyak masyarakat yang tidak perduli akan sejarah nenek
moyangnya sendiri . Hal ini mengakibatkan Sumber Daya Manusia di Indonesia
masih di ragukan . berangkat adri permasalahan ini, kami ingin membahas tentang
Asal Usul dan Persebaran Manusia di Kepulauan Indonesia .
1. Evolusi Manusia
2. Asal Usul Manusia Indonesia
3. Pessebaran Manusia di Kepulauan Indonesia
1.3. Perumusan Masalah
Atas dasar penentuan latar belakang dan identiikasi
masalah diatas, maka kami dapat mengambil perumusan masalah sebagai berikut:
”Bagaimana Asal Usul Manusia Indonesia dan
Persebarannya di Kepulauan Indonesia ?”
1.4. Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini dilakukan untuk dapat memenuhi
tujuan-tujuan yang dapat bermanfaat bagi para remaja dalam pemahaman tentang
Asal Usul dan Persebaran Manusia di Kepulauan Indonesia. Secara terperinci
tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Mengetahui apa itu teori evolusi manusia !
2. Mengetahui bagaimana asal usul manusia Indonesia !
3. Mengetahui bagaimana persebaran manusia di
kepulauan Indonesia !
BAB II
PEMBAHASAN
A. Teori Evolusi Manusia
Sebelum membahas mengenai asal-usul manusia Indonesia,
terlebih dahulu kita bahas mengenai teori evolusi. Teori evolusi membahas
tentang asal-usul makhluk manusia beserta perkembangan fisik manusia. Teori
evolusi merupakan kajian yang berakar pada filsafat materialistis. Filsafat
materialisme berkembang dan menyebar luas pada abad ke-19. Filsafat
materialisme berusaha menjelaskan penciptaan alam ini semata-mata karena
faktor-faktor yang bersifat materi. Para pendukung filsafat ini berpandangan
bahwa segala sesuatu muncul tidak melalui proses penciptaan, melainkan melalui
sebuah peristiwa kebetulan yang kemudian mencapai kondisi teratur. Pada
pertengahan abad ke-19, filsafat materialisme melahirkan teori evolusi.
Tokoh yang mengemukakan teori evolusi ialah seorang
naturalis yang berasal dari Inggris, yaitu Charles Robert Darwin (1809-1882).
Ia memiliki ketertarikan yang kuat pada alam dan makhluk hidup. Minat tersebut
pada akhirnya mendorong dia untuk bergabung dalam ekspedisi pelayaran dengan
sebuah kapal bernama H.M.S. Beagle, yang berangkat dari
Inggris tahun 1832. Dia mengarungi berbagai belahan dunia selama lima tahun.
Pengamatan alam yang dia lakukan melalui perjalanan tersebut menumbuhkan
perasaan takjub pada dirinya dengan melihat begitu banyaknya ragam spesies
makhluk hidup. Fokus perhatiannya terutama ditujukan pada jenis-jenis burung
finch di Kepulauan Galapagos. Ia mengira bahwa variasi pada paruh burungburung
tersebut disebabkan oleh adaptasi mereka terhadap habitatnya. Dengan pemikiran
ini, ia menduga bahwa asal-usul kehidupan dan spesies berdasar pada konsep
“adaptasi terhadap lingkungan”. Menurut Darwin, aneka spesies makhluk hidup
tidak diciptakan secara terpisah dan beragam melainkan berasal dari nenek
moyang yang sama. Kemudian muncul berbagai jenis dan ragam makhluk hidup karena
proses adaptasi mereka yang berbeda akibat kondisi alam yang berbeda. Darwin
mengemukakan gagasan yang menyatakan bahwa individu-individu yang beradaptasi
pada habitat mereka dengan cara terbaik, akan menurunkan sifat-sifat mereka
kepada generasi berikutnya. Sifat-sifat yang menguntungkan ini lama-kelamaan
terakumulasidan mengubah suatu individu menjadi spesies yang sama sekali
berbeda dengan nenek moyangnya. Menurut Darwin, manusia adalah hasil paling
maju dari mekanisme ini. Darwin menamakan proses ini sebagai “evolusi
melalui seleksi alam” (survival of the fittest). Ia
kemudian mempublikasikan pandangannya ini dalam bukunya yang berjudul “The
Origin of Species, By Means of Natural Selection” pada
tahun 1859. Meskipun demikian, nampaknya Darwin sendiri mempunyai beberapa
keraguan dalam pengungkapan teorinya tersebut. Hal ini terungkap dalam salah
satu bab yang dituangkannya dalam buku tersebut yang diberi judul “Difficulties
of the Theory”. Kesulitan-kesulitan ini terutama pada catatan fosil
dan organ-organ rumit makhluk hidup (misalnya mata) yang tidak mungkin
dijelaskan dengan konsep kebetulan, dan naluri makhluk hidup. Darwin berharap
kesulitan-kesulitan ini akan teratasi oleh penemuan-penemuan baru.
Di dalam proses evolusi manusia terdapat beberapa proses penting yang terjadi. Pertama, adalah
sikap tubuh dan cara bergerak. Sikap tegak merupakan fase yang sangat penting
dan memberikan pengaruh besar pada proses evolusi selanjutnya. Sikap tegak
dimulai dengan kemampuan duduk tegak, berjalan tegak, dan berakhir dengan
berdiri tegak untuk waktu yang
lama. Kemampuan berdiri tegak mempengaruhi pembebasan
tangan dari tugas menunjang badan. Akibatnya, tangan dapat digunakan untuk
melakukan berbagai pekerjaan yang sebagian besar pekerjaannya berhubungan
dengan membuat dan mempergunakan alat, menyelidiki lingkungan, mencari,
membawa, mempersiapkan dan menyuap makanan, memelihara kebersihan badan,
mempertahankan diri, dan mengasuh anak-anak. Dari sini
kita mulai melihat perbedaan antara manusia dengan hewan primata lainnya;
mereka menggunakan mulut untuk melakukan pekerjaan seperti itu, tetapi manusia
melakukannya dengan tangan.
Kedua, evolusi kepala
termasuk di dalamnya adalah otak. Evolusi kepala berhubungan erat dengan
evolusi muka sebagai bagian teratas system pencernaan dan pernapasan serta
evolusi otak. Perubahan makanan dan cara mengolahnya mempengaruhi struktur
mulut sebagai alat pengunyah. Apalagi setelah ditemukannya api semakin menambah
kemajuan manusia dalam mengolah makanan. Akibatnya ialah pekerjaan mengunyah
semakin berkurang, yang selanjutnya mengakibatkan reduksi alat pengunyah.
Gigigigi pipi mengecil, demikian pula rahang dan otot-ototnya. Peranan alat
pembau semakin berkurang, yang berpengaruh terhadap fungsi bagian otak yang
berhubungan dengan pembauan. Sementara di sisi lain, volume otak semakin
membesar dan berpengaruh pada berkembangnya keinginan dan prakarsa serta
pengendaliannya, kepribadian, daya simak, pemikiran, dan asosiasi serta
integrasi pengalaman.
Evolusi yang ketiga berkaitan dengan
perkembangan biososial manusia. Evolusi pada aspek ini menyangkut tiga hal
penting, yaitu: pembuatan alat, organisasi sosial, dan komunikasi dengan
bahasa. Evolusi dalam perubahan sikap tubuh mempengaruhi pembebasan tangan dari
pekerjaan menumpu badan. Hal ini kemudian diperkuat lagi dengan semakin
berkembangnya
kemampuan otak untuk berpikir. Dampaknya ialah
timbulnya kepandaian baru dalam pemakaian dan pembuatan alat-alat dari kayu,
batu, dan sebagainya. Kepandaian ini menimbulkan perubahan dalam cara mencari
makan dan mengolah makanan. Kemungkinan berburu binatang-binatang besar mulai
ada dan ini perlu dilakukan secara berkelompok. Bekerja sama secara
kelompok tentunya memerlukan pengorganisasian dan
penggunaan isyaratisyarat dalam mengatur siasat bersama. Inilah yang pada
akhirnya mendorong terciptanya komunikasi baik secara verbal maupun nonverbal
sebab komunikasi akan sangat diperlukan untuk mengatur kehidupan secara
berkelompok/bersama.
Teori Darwin tentang asal muasal manusia yang berasal
dari makhluk sejenis kera perlu mendapat pembuktian. Artinya, untuk sampai pada
bentuk manusia seperti sekarang ini haruslah ada sejenis makhluk peralihan yang
dapat menjembatani antara kera dengan manusia. Makhluk tersebut tentunya secara
fisik dan perkembangan otak serta biososial lainnya mencerminkan
peralihan dari makhluk sejenis kera menuju bentuk
seperti manusia sekarang ini. Pada kurun waktu beberapa tahun makhluk ini tidak
dapat ditemukan sehingga kemudian dikenal konsep missing link yang
artinya terputusnya rantai yang dapat menghubungkan antara makhluk awal dengan
manusia modern. Pada akhirnya, banyak orang meragukan teori yang dikemukakan
oleh Darwin. Untuk membuktikan kebenaran teori Darwin,
perlu ditemukan terlebih dahulu makhluk peralihan tadi. Missing
link pada akhirnya dapat dipecahkan oleh penemuan fosil
yang ditemukan oleh Eugene Dubois di
daerah Trinil, Jawa Timur, pada tahun 1891. Fosil tengkorak manusia yang
kemudian diberi nama Pithecanthropus Erectus ini
diklaim oleh Dubois sebagai makhluk peralihan dari kera menuju manusia. Akan
tetapi nampaknya keyakinan Dubois ini pada akhirnya dapat diruntuhkan dengan
ditemukannya fosil lain, yaitu Meganthropus Palaeojavanicus, yang
diperkirakan usianya lebih tua dibandingkan dengan Pithecanthropus
Erectus.
2.2 ASAL USUL MANUSIA DI INDONESIA
Indonesia termasuk salah satu negara tempat ditemukannya manusia purba.
Penemuan manusia purba di Indonesia dapat dilakukan berdasarkan fosil-fosil
yang telah ditemukan. Fosil adalah tulang belulang, baik binatang maupun
manusia, yang hidup pada zaman purba yang usianya sekitar ratusan atau ribuan
tahun. Adapun untuk mengetahui bagaimana kehidupan manusia purba pada saat itu,
yaitu dengan cara mempelajari benda-benda peninggalannya yang biasa disebut
dengan artefak.
Manusia purba yang ditemukan di Indonesia memiliki
usia yang sudah tua, hampir
sama dengan manusia purba yang ditemukan di
negara-negara lainnya di dunia. Bahkan
Indonesia dapat dikatakan mewakili penemuan manusia
purba di daratan Asia. Daerah
penemuan manusia purba di Indonesia tersebar di
beberapa tempat, khususnya di Jawa.
Penemuan fosil manusia purba di Indonesia terdapat
pada lapisan pleistosen. Salah satu
jenis manusia purba yang ditemukan di Indonesia hampir
memiliki kesamaan dengan yang
ditemukan di Peking Cina, yaitu jenis Pithecanthropus
Erectus.
Penelitian tentang manusia purba di Indonesia telah
lama dilakukan. Sekitar abad ke-19 para sarjana dari luar meneliti manusia
purba di Indonesia. Sarjana pertama yang meneliti manusia purba di Indonesia
ialah Eugene Dubois seorang dokter dari Belanda.
Dia pertama kali mengadakan penelitian di gua-gua di Sumatera Barat. Dalam
penyelidikan ini, ia tidak menemukan kerangka manusia. Kemudian dia mengalihkan
penelitiannya di Pulau Jawa. Pada tahun 1890, E. Dubois menemukan fosil yang ia
beri nama Pithecanthropus Erectus di dekat Trinil,
sebuah desa di Pinggir Bengawan Solo, tak jauh dari Ngawi (Madiun). E. Dubois
pertama-tama menemukan sebagian rahang. Kemudian pada tahun berikutnya
kira-kira 40 km dari tempat penemuan pertama, ditemukan sebuah geraham dan
bagian atas tengkorak. Pada tahun 1892, beberapa meter dari situ ditemukan
sebuah geraham lagi dan sebuah tulang paha kiri.
Untuk membedakan apakah fosil itu, fosil manusia atau
kera, E.Dubois memperkirakan isi atau volume otaknya. Volume otak dari fosil
yang ditemukan itu, diperkirakan 900 cc. Manusia biasa memiliki volume otak
lebih dari 1000 cc, sedangkan jenis kera yang tertinggi hanya 600 cc. Jadi,
fosil yang ditemukan di Trinil merupakan makhluk di antara manusia dan kera. Bentuk
fisik dari makhluk itu ada yang sebagian menyerupai kera, dan ada yang
menyerupai manusia. Oleh karena bentuk yang demikian, maka E. Dubois memberi
nama Pithecanthropus Erectus artinya manusia-kera yang
berjalan tegak (pithekos = kera, anthropus = manusia, erectus =
berjalan tegak). Jika makhluk ini kera, tentu lebih tinggi tingkatnya dari
jenis kera, dan jika makhluk ini manusia harus diakui bahwa tingkatnya lebih
rendah dari manusia (Homo Sapiens).
Sebelum menemukan fosil tempurung kepala (cranium) dan
tulang paha tengah (femur), Dubois memulai pencariannya dengan
berlandaskan pada tiga teori. Ketiga dasar teori tersebut selain digunakan
sebagai acuan akademik sekaligus untuk meyakinkan pemerintah kolonial Belanda,
bahwa pencarian missing link dalam mempelajari evolusi manusia
penting bagi
perkembangan ilmu pengetahuan. Ingat! Pada masa itu
Indonesia masih berada dalam kekuasaan pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Walau begitu, ada juga kegagalan Dubois yang dalam
kaitannya dengan perkembangan ilmu pengetahuan menjadi bermakna. Salah satu
kelemahan teori Dubois adalah di missing link, yang menyebutkan
mata rantai keramanusia telah terjawab dengan ditemukannya “java man”. Pendapat
itu keliru karena penemuan-penemuan selanjutnya fosil manusia purba di Sangiran
(Jawa Tengah), Mojokerto (Jawa Timur), juga di Cina
dan Tanzania ternyata jauh lebih tua sekitar 500.000 sampai 750.000 tahun
dibanding temuannya.
Selain itu, ada kesalahan teori Dubois mengenai volume
otak yang meningkat 2 kali lipat sebanding dengan peningkatan ukuran tubuh.
Menurut Dubois volume otak fosil “java man” sekitar 700 cc, kurang lebih
setengah dari volume otak manusia modern yang sekitar 1.350 cc. Teori tersebut
runtuh karena volume otak “java man” berdasarkan penghitungan yang
lebih akurat adalah sekitar 900 cc. Sebagai pembanding
pada kera besar yang ada sekarang, simpanse misalnya, volume otaknya sekitar
400 cc. “Java man” terlalu pandai untuk mengisi missing link kera-manusia,
ia lebih tepat disebut manusia purba. Penemuan fosil manusia purba yang telah
dilakukan oleh Dubois pada akhirnya mendorong penemuan-penemuan selanjutnya
yang dilakukan oleh para peneliti lainnya. Pada tahun 1907-1908, dilakukan
upaya penyelidikan
dan penggalian yang dipimpin oleh Selenka di
daerah Trinil (Jawa Timur). Penggalian yang dilakukan oleh Selenka memang tidak
berhasil menemukan fosil manusia. Akan tetapi upaya penggaliannya telah
berhasil menemukan fosil-fosil hewan dan tumbuh-tumbuhan yang dapat memberikan
dukungan untuk menggambarkan lingkungan hidup manusia Pithecanthropus.
G.H.R von Koenigswald mengadakan penelitian dari tahun 1936 sampai 1941 di
daerah sepanjang Lembah Sungai Solo. Pada tahun 1936 Koenigswald menemukan
fosil tengkorak anak-anak di dekat Mojokerto. Dari gigi tengkorak tersebut,
diperkirakan usia anak tersebut belum melebihi 5 tahun. Kemungkinan tengkorak
tersebut merupakan tengkorak anak dari Pithecanthropus Erectus, tetapi von
Koenigswald menyebutnya Homo Mojokertensis. Pada tahun-tahun
selanjutnya, von Koenigswald banyak menemukan bekas-bekas manusia prasejarah,
di antaranya bekas-bekas Pithecanthropus lainnya. Di samping
itu, banyak pula didapatkan fosil-fosil binatang menyusui. Berdasarkan atas
fauna (dunia hewan), von Koeningswald membagi diluvium Lembah Sungai Solo (pada
umumnya diluvium Indonesia) menjadi tiga lapisan, yaitu lapisan Jetis (pleistosen
bawah), di atasnya terletak lapisan Trinil (pleistosen tengah) dan
paling atas ialah lapisan Ngandong (pleistosen atas).
Pada setiap lapisan itu ditemukan jenis manusia
purba. Pithecanthropus Erectus penemuan E. Dubois terdapat
pada lapisan Trinil, jadi dalam lapisan pleistosen tengah. Pithecanthropus lainnya
ada yang di pleistosen tengah dan ada yang di pleistosen bawah. Di
plestosen bawah terdapat fosil manusia purba yang lebih besar dan
kuat tubuhnya daripada Pithecanthropus Erectus, dan
dinamakan Pithecanthropus Robustus. Dalam lapisan pleistosen
bawah terdapat pula Homo Mojokertensis, kemudian disebut
pula Pithecanthropus Mojokertensis. Jenis Pithecanthropus memiliki
tengkorak yang tonjolan keningnya tebal. Hidungnya lebar dengan
tulang pipi yang kuat dan menonjol. Mereka hidup antara 2 setengah
sampai 1 setengah juta tahun yang lalu. Hidupnya dengan memakan
tumbuh-tumbuhan dan hewan. Pithecanthropus masih hidup berburu
dan mengumpulkan makanan. Mereka belum pandai memasak, sehingga
makanan dimakan tanpa dimasak terlebih dahulu. Sebagian mereka
masih tinggal di padang terbuka, dan ada yang tewas dimakan binatang
buas. Oleh karenanya, mereka selalu hidup secara berkelompok. Pada
tahun 1941, von Koeningwald di dekat Sangiran Lembah Sungai Solo
juga, menemukan sebagian tulang rahang bawah yang jauh lebih besar dan
kuat dari rahang Pithecanthropus. Geraham-gerahamnya menunjukkan corak-corak
kemanusiaan, tetapi banyak pula sifat keranya. Tidak ada dagunya.
Von Koeningwald menganggap makhluk ini lebih tua daripada Pithecanthropus. Makhluk
ini ia beri nama Meganthropus Paleojavanicus (mega = besar),
karena bentuk tubuhnya yang lebih besar. Diperkirakan hidup pada 2
juta sampai satu juta tahun yang lalu. Von Koenigswald dan
Wedenreich kembali menemukan sebelas fosil tengkorak pada tahun
1931-1934 di dekat Desa Ngandong Lembah Bengawan Solo. Sebagian
dari jumlah itu telah hancur, tetapi ada beberapa yang dapat
memberikan informasi bagi penelitiannya. Pada semua tengkorak itu, tidak
ada lagi tulang rahang dan giginya. Von Koeningswald menilai hasil temuannya
ini merupakan fosil dari makhluk yang lebih tinggi tingkatannya daripada Pithecanthropus
Erectus, bahkan sudah dapat dikatakan sebagai manusia.
Makhluk ini oleh von Koeningswald disebut Homo Soloensis (manusia
dari Solo).
Pada tahun 1899 ditemukan sebuah tengkorak di dekat
Wajak sebuah desa yang tak jauh dari Tulungagung, Kediri. Tengkorak ini ini
disebut Homo Wajakensis. Jenis manusia purba ini tinggi tubuhnya
antara 130 – 210 cm, dengan berat badan kira-kira 30 – 150 kg. Mukanya lebar
dengan hidung yang masih lebar, mulutnya masih menonjol. Dahinya masih
menonjol, walaupun tidak seperti Pithecanthropus. Manusia ini
hidup antara 25.000 sampai dengan 40.000 tahun yang lalu. Di Asia Tenggara juga
terdapat jenis ini. Tempat-tempat temuan yang lain ialah di Serawak (Malaysia
Timur), Tabon (Filipina), juga di Cina Selatan. Homo ini dibandingkan jenis
sebelumnya sudah mengalami kemajuan. Mereka telah membuat alat-alat dari batu
maupun
tulang. Untuk berburu mereka tidak hanya mengejar dan
menangkap binatang buruannya. Makanannya telah dimasak, binatang-binatang
buruannya setelah dikuliti lalu dibakar. Umbian-umbian merupakan jenis makanan
dengan cara dimasak. Walaupun masakannya masih sangat sederhana, tetapi ini
menunjukkan adanya kemajuan dalam cara berpikir mereka dibandingkan dengan
jenis manusia purba sebelumnya. Bentuk tengkorak ini berlainan dengan tengkorak
penduduk asli bangsa Indonesia, tetapi banyak
persamaan dengan tengkorak penduduk asli benua Australia sekarang. Menurut
Dubois, Homo Wajakensis termasuk dalam golongan bangsa
Australoide, bernenek moyang Homo Soloensis dan
nantinya menurunkan bangsa-bangsa asli di Australia. Menurut von
Koenigswald, Homo Wajakensis seperti juga Homo
Solensis berasal dari lapisan bumi pleistosin atas dan mungkin sekali
sudah termasuk jenis Homo Sapiens, yaitu manusia purba yang
sudah sempurna mirip dengan manusia. Mereka telah mengenal penguburan pada saat
meninggal. Berbeda dengan jenis manusia purba sebelumnya, yang belum mengenal
cara penguburan.
B. Persebaran Manusi Di Kepulauan Indonesia
Berbagai jenis ras diperkiraan berasal dari asia tengah hal tersebut didasarkan atas penemuan tulang belulang kuno. Contohnya Papua Melanosoid, Europoid, Mongoloid, dan Austroloid. Dari percampuran mereka lahirlah bangsa melayu yang menyebar melalui sungai dan lembah kedaerah pantai dikarenakan adanya wabah penyakit , ke teluk Tonkin lalu indo cina menyebar ke Kamboja, Muang Thai yang kemudian menjadi bangsa Austroasia. Yang kemudian mereka munuju kepulaan dan kemudian menjadi bangsa Austronesia.
Berbagai jenis ras diperkiraan berasal dari asia tengah hal tersebut didasarkan atas penemuan tulang belulang kuno. Contohnya Papua Melanosoid, Europoid, Mongoloid, dan Austroloid. Dari percampuran mereka lahirlah bangsa melayu yang menyebar melalui sungai dan lembah kedaerah pantai dikarenakan adanya wabah penyakit , ke teluk Tonkin lalu indo cina menyebar ke Kamboja, Muang Thai yang kemudian menjadi bangsa Austroasia. Yang kemudian mereka munuju kepulaan dan kemudian menjadi bangsa Austronesia.
Bangsa Thailand Selatan, Singapura, Indonesia, Brunei, dan Philipina Selatan
memiliki kesamaan terhadap bangsa cina di sebelah timur dan bangsa India di
sebelah barat
a. Penyebaran Manusia dan Bahasa Austronesia
Bahasa di asia tengah berasal dari keluarga sinn-tibet yang melahirkan bahasa Cina, Siam, Tibet, Miao, Yiu, dan Burma. Penyebaran keselatan melahirkan bahasa Dravida,yaitu Telugu, Tamil, Malayalam, sedangkan penyebaran ke Asia Timur dan Tenggara melahirkan bahasa Austronesia yang menurunkan bahasa Melayu, Melanesia, Mikronesia, Polinesia.
Bahasa di asia tengah berasal dari keluarga sinn-tibet yang melahirkan bahasa Cina, Siam, Tibet, Miao, Yiu, dan Burma. Penyebaran keselatan melahirkan bahasa Dravida,yaitu Telugu, Tamil, Malayalam, sedangkan penyebaran ke Asia Timur dan Tenggara melahirkan bahasa Austronesia yang menurunkan bahasa Melayu, Melanesia, Mikronesia, Polinesia.
Oleh karena itu ada kesamaan istilah ,bahasa,nama hewan
dan tumbuhan,jadi bangsa pendukung bahasa Austronesia itu berasal dari daerah
campa.cochin china,dan kamboja dan daerah di sekitar pantai , namun
wilayah itu bukanlah penduduk asli.tempat asal mereka berada di daerah
yang jauh lebih tinggi.
b. Penyebar Pendukung Kapak Persegi
Menurut Kern dan Von Heine Geldern persebaran kapak persegi berasal dari daerah Yunan di Cina Selatan , yaitu di daerah hulu sungai sungai terbesar di Asia Tenggara seperti di sungai Brahmaputra, Irrawaddy, Salwin, Yang-tse-kiang, sungai Mekhong, dan sungai Menam. Dengan melalui lembah sungai itu kebudayaan dan manusia pendukungnya menyebar menuju hilir sungai sehingga sampai ke asia tenggara bagian utara. Disini kebudayaan itu mempunyai cabang kebudayaan kapak bahu. Dalam perkembangnya masing-masing berdiri sendiri dan mempunyai jalan penyebaran yang berbeda. Pendukung kebudayaa kapak persegi yaitu adalah bangsa Austronesia,mempunyai pusat di daerah Tonkin. Karena mereka memiliki kepandaian membuat perahu bercadik, mereka berlayar menggunakan perahu tersebut ke Malaysia barat kemudian ke Sumatra, Jawa, Bali, dan terus ke timur. Sebagian menuju Kalimantan, dari Kalimantan barat laut kebudayaan kapak persegi tersebar ke Philipina , Formosa, dan Jepang .
Menurut Kern dan Von Heine Geldern persebaran kapak persegi berasal dari daerah Yunan di Cina Selatan , yaitu di daerah hulu sungai sungai terbesar di Asia Tenggara seperti di sungai Brahmaputra, Irrawaddy, Salwin, Yang-tse-kiang, sungai Mekhong, dan sungai Menam. Dengan melalui lembah sungai itu kebudayaan dan manusia pendukungnya menyebar menuju hilir sungai sehingga sampai ke asia tenggara bagian utara. Disini kebudayaan itu mempunyai cabang kebudayaan kapak bahu. Dalam perkembangnya masing-masing berdiri sendiri dan mempunyai jalan penyebaran yang berbeda. Pendukung kebudayaa kapak persegi yaitu adalah bangsa Austronesia,mempunyai pusat di daerah Tonkin. Karena mereka memiliki kepandaian membuat perahu bercadik, mereka berlayar menggunakan perahu tersebut ke Malaysia barat kemudian ke Sumatra, Jawa, Bali, dan terus ke timur. Sebagian menuju Kalimantan, dari Kalimantan barat laut kebudayaan kapak persegi tersebar ke Philipina , Formosa, dan Jepang .
c. Penyebaran Manusia dengan Perahu Bercadik
Hornell yang mengadakan penyelidikan terhadap
jenis-jenis perahu di Nusantara dan negar-negara disekitarnya menyimpulkan
bahwa perahu bercadik adalah perahu khas bangsa Indonesia. Di India selatan ada
beberapa suku yang menurut corak kebudayaan dan fisiknya banyak menyerupai
orang Indonesia. Diantaranya suku terkenal sebagai penyelam mutiara di teluk
Manar. Mereka juga menggunakan perahu bercadik, sedangkan suku Shanar
kehidupannya terutama dari perkebunan kelapa. Tanaman kelapa tersebut
diperkirakan berasal dari Indonesia melalui
Srilangka.
d. Gelombang Kedatangan Penduduk dari Asia Daratan ke
Wilayah Nusantara
Berdasarkan fosil-fosil yang
telah di temukan di wilayah Indonesia dapat diketahui bahwa sejak 2 juta tahun
yang lalu wilayah ini telah di huni. Penhuninya adalah manusia-manusia purba
dengan kebudayaan seperti : meganthropus paleojavanicus, pithecanthropus
erectus, pithecanthropus soloensis dan homo wajakensis. Manusia-manusia purba
ini utamanya homo wajakensis lebih mirip dengan manusia-manusia yang kini
dikenal sebagai penduduk asli Australia, aborigin.
Dengan demikian,”penduduk asli Indonesia” adalah kaum negroid atau melanesoid atau astroloid, yang berkulit hitam. Wilayah nusantara kemudian kedatangan bangsa melanesoid yang berasal dari Tonkin, tepatnya dari bacson-hoabinh. Dari artefak-artefak yang ditemukan di tempat asalnya menunjukan bahwa induk bangsa ini berkulit hitam, berbadan kecil dan termasuk tipe veddoid-austrolaid. Sebelum didatangi bangsa-bangsa pengembara dari luar, tanah dinusantara belum menjadi kepemilikan siapa pun. Hal ini berbeda dengan Manusia Indonesia Purba yang tidak memerlukan tanah sebagai modal untuk hidup karena mereka berpindah-pindah. Ketika sampai di satu tempat yang dilakukannya adalah mengumpulkan makanan (food gathering). Biasanya mencari lembah-lembah atau wilayah yang terdapat aliran sungai untuk mendapatkan ikan atau kerang (terbukti dengan ditemukannya fosil-fosil manusia purba diwilayah nusantara di lembah-lembah sungai), walaupun tidak tertutup kemungkinan ada pula yang memilih mencari di pedalaman. Ketika bangsa Melanesoid datang, mereka mulai menetap, walaupun seminomaden. Jika sudah tidak mendapatkan lagi makanan mereka akan pindah. Oleh karena itu, mereka memilih daerah yang banyak menghasilkan. Wilayah aliran sungai pula yang akan menjadi targetnya. Alat-alat sederhana seperti: kapak genggam atau choppers, alat-alat tulang dan tanduk rusa berhadapan dengan kapak genggam yang lebih halus atau febble, kapak pendek dan sebagainya.
Kebudayaan bangsa Melanesoide ini adalah kebudayaan Mesolitikum yang sudah mulai hidup menetap dalam kelompok, sudah mengenal api, meramu dan berburu binatang. Teknologi pertanian juga sudah mereka miliki sekalipun mereka belum dapat menjaga agar satu bidang tanah dapat ditanami berkali-kali. Cara bertani mereka masih dengan sistem perladangan berpindah-pindah. Dengan demikian, mereka harus berpindah ketika lahan yang lama tidak bisa ditanami lagi atau karena habisnya makanan ternak. Gaya hidup ini dinamakan dengan seminomaden. Dalam setiap perpindahan manusia beserta kebudayaan yang datang ke nusantara, selalu di lakukan oleh bangsa yang tingkat peradabannya lebih tinggi dari bangsa yang dating sebelumnya. Dari semua gelombang pendatang dapat di lihat bahwa mereka adalah bangsa-bangsa yang mulai bahkan telah menetap. Jika kehidupan mereka masih berpindah, maka perpindahan bukanlah sesuatu hal yang aneh. Namun dalam kehidupan yang telah menetap, pilihan untuk meninggalkan daerah asal bukan tanpa alasan yang kuat. Ketika kehidupan mulai menetap, maka tanah yang mereka butuhkan adalah tanah sebagai media untuk tetap hidup. Mereka sangat membutuhkan tanah yang luas karena teknologi pertaniannya masih rendah.
Sekitar tahun 2000SM, bangsa melanesoid yang akhirnya menetap di nusantara kedatangan pula bangsa dan kebudayaannya lebih tinggi yang berasal dari rumpun melayu austronosia yakni bangsa melayu tua atau proto melayu, suatu ras mongoloid yang berasal dari daerah yunan, dekat lembah sungai Yang Tze, Cina Selatan.
Dengan demikian,”penduduk asli Indonesia” adalah kaum negroid atau melanesoid atau astroloid, yang berkulit hitam. Wilayah nusantara kemudian kedatangan bangsa melanesoid yang berasal dari Tonkin, tepatnya dari bacson-hoabinh. Dari artefak-artefak yang ditemukan di tempat asalnya menunjukan bahwa induk bangsa ini berkulit hitam, berbadan kecil dan termasuk tipe veddoid-austrolaid. Sebelum didatangi bangsa-bangsa pengembara dari luar, tanah dinusantara belum menjadi kepemilikan siapa pun. Hal ini berbeda dengan Manusia Indonesia Purba yang tidak memerlukan tanah sebagai modal untuk hidup karena mereka berpindah-pindah. Ketika sampai di satu tempat yang dilakukannya adalah mengumpulkan makanan (food gathering). Biasanya mencari lembah-lembah atau wilayah yang terdapat aliran sungai untuk mendapatkan ikan atau kerang (terbukti dengan ditemukannya fosil-fosil manusia purba diwilayah nusantara di lembah-lembah sungai), walaupun tidak tertutup kemungkinan ada pula yang memilih mencari di pedalaman. Ketika bangsa Melanesoid datang, mereka mulai menetap, walaupun seminomaden. Jika sudah tidak mendapatkan lagi makanan mereka akan pindah. Oleh karena itu, mereka memilih daerah yang banyak menghasilkan. Wilayah aliran sungai pula yang akan menjadi targetnya. Alat-alat sederhana seperti: kapak genggam atau choppers, alat-alat tulang dan tanduk rusa berhadapan dengan kapak genggam yang lebih halus atau febble, kapak pendek dan sebagainya.
Kebudayaan bangsa Melanesoide ini adalah kebudayaan Mesolitikum yang sudah mulai hidup menetap dalam kelompok, sudah mengenal api, meramu dan berburu binatang. Teknologi pertanian juga sudah mereka miliki sekalipun mereka belum dapat menjaga agar satu bidang tanah dapat ditanami berkali-kali. Cara bertani mereka masih dengan sistem perladangan berpindah-pindah. Dengan demikian, mereka harus berpindah ketika lahan yang lama tidak bisa ditanami lagi atau karena habisnya makanan ternak. Gaya hidup ini dinamakan dengan seminomaden. Dalam setiap perpindahan manusia beserta kebudayaan yang datang ke nusantara, selalu di lakukan oleh bangsa yang tingkat peradabannya lebih tinggi dari bangsa yang dating sebelumnya. Dari semua gelombang pendatang dapat di lihat bahwa mereka adalah bangsa-bangsa yang mulai bahkan telah menetap. Jika kehidupan mereka masih berpindah, maka perpindahan bukanlah sesuatu hal yang aneh. Namun dalam kehidupan yang telah menetap, pilihan untuk meninggalkan daerah asal bukan tanpa alasan yang kuat. Ketika kehidupan mulai menetap, maka tanah yang mereka butuhkan adalah tanah sebagai media untuk tetap hidup. Mereka sangat membutuhkan tanah yang luas karena teknologi pertaniannya masih rendah.
Sekitar tahun 2000SM, bangsa melanesoid yang akhirnya menetap di nusantara kedatangan pula bangsa dan kebudayaannya lebih tinggi yang berasal dari rumpun melayu austronosia yakni bangsa melayu tua atau proto melayu, suatu ras mongoloid yang berasal dari daerah yunan, dekat lembah sungai Yang Tze, Cina Selatan.
BAB II
PENUTUP
A. Kesimpulan
Asal usul manusia berkaitan dengan teori evolusi.
Tokoh yang mengeluarkan
teori evolusi ialah Charles Darwin. Berdasarkan
teorinya, Darwin mencoba memberikan jawaban tentang asal-usul manusia dan
bagaimana manusia itu mengalami perkembangan secara fisik. Penemuan manusia
purba di Indonesia dapat menjelaskan tentang asal usul dan penyebaran manusia
di Indonesia. Berdasarkan penemuan-penemuan tersebut maka timbul berbagai teori
mengenai asal usul dan persebaran manusia di Indonesia.
B. Saran
Demikianlah makalah ini saya
susun dengan baik. Semoga dapat bermanfaat bagi pembaca. Penulis menyadari
makalah ini masih banyak kekurangan, maka penulis mengharapkan saran dan kritik
yang bersifat membangun untuk menyempurnakan makalah ini .
DAFTAR PUSTAKA
Mustafa Shodiq . 2006. Wawasan Sejarah
1 Indonesia dan Dunia. Solo : Tiga Serangkai
Mustopo Habib. 2007. Sejarah 1. Jakarta :
Yudhistira
